Cerita Lucu-lucu untuk anak-anak
ISTANA BUNGA.
Dahulu kala, hiduplah
raja dan ratu yang kejam. Keduanya suka berfoya-foya dan menindas rakyat
miskin. Raja dan Ratu ini mempunyai putra dan putri yang baik hati. Sifat
mereka sangat berbeda dengan kedua orangtua mereka itu. Pangeran Aji Lesmana
dan Puteri Rauna selalu menolong rakyat yang kesusahan. Keduanya suka menolong
rakyatnya yang memerlukan bantuan.
Suatu hari, Pangeran
Aji Lesmana marah pada ayah bundanya, "Ayah dan Ibu jahat. Mengapa
menyusahkan orang miskin?!"
Raja dan Ratu sangat
marah mendengar perkataan putra mereka itu.
"Jangan mengatur
orangtua! Karena kau telah berbuat salah, aku akan menghukummu. Pergilah dari
istana ini!" usir Raja.
Pangeran Aji Lesmana
tidak terkejut. Justru Puteri Rauna yang tersentak, lalu menangis memohon
kepada ayah bundamya, "Jangan, usir Kakak! Jika Kakak harus pergi, saya
pun pergi!"
Raja dan Ratu sedang
naik pitam. Mereka membiarkan Puteri Rauna pergi mengikuti kakaknya. Mereka
mengembara. Menyamar menjadi orang biasa. Mengubah nama menjadi Kusmantoro dan
Kusmantari. Mereka pun mencari guru untuk mendapat ilmu. Mereka ingin
menggunakan ilmu itu untuk menyadarkan kedua orangtua mereka.
Keduanya sampai di
sebuah gubug. Rumah itu dihuni oleh seorang kakek yang sudah sangat tua. Kakek
sakti itu dulu pernah menjadi guru kakek mereka. Mereka mencoba mengetuk pintu.
"Silakan masuk,
Anak Muda," sambut kakek renta yang sudah tahu kalau mereka adalah
cucu-cucu bekas muridnya. Namun kakek itu sengaja pura-pura tak tahu.
Kusmantoro mengutarakan maksudnya, "Kami, kakak beradik yatim piatu.
Kami ingin berguru pada Panembahan."
Kakek sakti bernama
Panembahan Manraba itu tersenyum mendengar kebohongan Kusmantoro. Namun karena
kebijakannya, Panembahan Manraba menerima keduanya menjadi muridnya.
Panembahan Manraba
menurunkan ilmu-ilmu kerohanian dan kanuragan pada Kusmantoro dan Kusmantari.
Keduanya ternyata cukup berbakat. Dengan cepat mereka menguasai ilmu-ilmu yang
diajarkan. Berbulan-bulan mereka digembleng guru bijaksana dan sakti itu.
Suatu malam Panembahan
memanggil mereka berdua. "Anakku, Kusmantoro dan Kusmantari. Untuk
sementara sudah cukup kalian berguru di sini. Ilmu-ilmu lainnya akan kuberikan
setelah kalian melaksanakan satu amalan."
"Amalan apa itu,
Panembahan?" tanya Kusmantari.
"Besok pagi-pagi
sekali, petiklah dua kuntum melati di samping kanan gubug ini. Lalu
berangkatlah menuju istana di sebelah Barat desa ini. Berikan dua kuntum bunga
melati itu kepada Pangeran Aji Lesmana dan Puteri Rauna. Mereka ingin
menyadarkan Raja dan Ratu, kedua orang tua mereka."
Kusmantoro dan
Kusmantari terkejut. Namun keterkejutan mereka disimpan rapat-rapat. Mereka tak
ingin penyamaran mereka terbuka.
"Dua kuntum
melati itu berkhasiat menyadarkan Raja dan Ratu dari perbuatan buruk mereka.
Namun syaratnya, dua kuntum melati itu hanya berkhasiat jika disertai kejujuran
hati," pesan Panembahan Manraba.
Ketika menjelang tidur
malam, Kusmantoro dan Kusmantari resah. Keduanya memikirkan pesan Panembahan.
Apakah mereka harus berterus terang kalau mereka adalah Pangeran Aji Lesmana
dan Puteri Rauna? Jika tidak berterus terang, berarti mereka berbohong, tidak
jujur. Padahal kuntum melati hanya berkhasiat bila disertai dengan kejujuran.
Akhirnya, pagi-pagi
sekali mereka menghadap Panembahan.
"Kami berdua
mohon maaf, Panembahan. Kami bersalah karena tidak jujur kepada Panembahan
selama ini."
Saya mengerti,
Anak-anakku. Saya sudah tahu kalian berdua adalah Pangeran Aji Lesmana dan
Puteri Rauna. Pulanglah. Ayah Bundamu menunggu di istana."
Setelah mohon pamit
dan doa restu, Pangeran Aji Lesmana dan Puteri Rauna berangkat menuju ke
istana. Setibanya di istana, ternyata Ayah Bunda mereka sedang sakit. Mereka
segera memeluk kedua orang tua mereka yang berbaring lemah itu.
Puteri Rauna lalu meracik
dua kuntum melati pemberian Panembahan. Kemudian diberikan pada ayah ibu
mereka. Ajaib! Seketika sembuhlah Raja dan Ratu. Sifat mereka pun berubah.
Pangeran dan Puteri Rauna sangat bahagia. Mereka meminta bibit melati ajaib itu
pada Panembahan. Dan menanamnya di taman mereka. Sehingga istana mereka dikenal
dengan nama Istana Bunga. Istana yang dipenuhi kelembutan hati dan kebahagiaan.
ANAK KATAK YANG SOMBONG DAN ANAK LEMBU
Di tengah padang rumput yang sangat luas, terdapat sebuah kolam
yang dihuni oleh berpuluh-puluh katak. Diantara katak-katak tersebut ada satu
anak katak yang bernama Kenthus, dia adalah anak katak yang paling besar dan
kuat. Karena kelebihannya itu, Kenthus menjadi sangat sombong. Dia merasa kalau
tidak ada anak katak lainnya yang dapat mengalahkannya.
Sebenarnya kakak Kenthus sudah sering menasehati agar Kentus tidak
bersikap sombong pada teman-temannya yang lain. Tetapi nasehat kakaknya
tersebut tidak pernah dihiraukannya. Hal ini yang menyebabkan teman-temannya
mulai menghindarinya, hingga Kenthus tidak mempunyai teman bermain lagi.
Pada suatu pagi, Kenthus berlatih melompat di padang rumput.
Ketika itu juga ada seekor anak lembu yang sedang bermain di situ. Sesekali,
anak lembu itu mendekati ibunya untuk menyedot susu. Anak lembu itu gembira
sekali, dia berlari-lari sambil sesekali menyenggok rumput yang segar. Secara
tidak sengaja, lidah anak sapi yang dijulurkan terkena tubuh si Kenthus.
"Huh, berani makhluk ini mengusikku," kata Kenthus
dengan perasaan marah sambil coba menjauhi anak lembu itu. Sebenarnya anak
lembu itu pula tidak berniat untuk mengganggunya. Kebetulan pergerakannya sama
dengan Kenthus sehingga menyebabkan Khentus menjadi cemas dan melompat dengan
segera untuk menyelamatkan diri.
Sambil terengah-engah, Kenthus sampai di tepi kolam. Melihat
Kenthus yang kelihatan sangat capek, kawan-kawannya nampak sangat heran.
"Hai Khentus, mengapa kamu terengah-engah, mukamu juga kelihatan sangat
pucat sekali,” Tanya teman-temannya.
"Tidak ada apa-apa. Aku hanya cemas saja. Lihatlah di tengah
padang rumput itu. Aku tidak tahu makhluk apa itu, tetapi makhluk itu sangat
sombong. Makhluk itu hendak menelan aku." Kata Kenthus..
Kakaknya yang baru tiba di situ menjelaskan. " Makhluk itu
anak lembu. sepengetahuan kakak, anak lembu tidak jahat. Mereka memang biasa
dilepaskan di padang rumput ini setiap pagi."
"Tidak jahat? Kenapa kakak bias bilang seperti itu? Saya
hampir-hampir ditelannya tadi," kata Kenthus. "Ah, tidak mungkin.
Lembu tidak makan katak atau ikan tetapi hanya rumput." Jelas kakaknya
lagi.
"Saya tidak percaya kakak. Tadi, aku dikejarnnya dan hampir
ditendang olehnya." Celah Kenthus. "Wahai kawan-kawan, aku sebenarnya
bisa melawannya dengan mengembungkan diriku," Kata Kenthus dengan bangga.
" Lawan saja Kenthus! Kamu tentu menang," teriak
anak-anak katak beramai-ramai.
"Sudahlah Kenthus. Kamu tidak akan dapat menandingi lembu
itu. Perbuatan kamu berbahaya. Hentikan!" kata Kakak Kenthus berulang kali
tetapi Kenthus tidak mempedulikan nasehat kakaknya. Kenthus terus mengembungkan
dirinya, karena dorongan dari teman-temannya. Sebenarnya, mereka sengaja hendak
memberi pelajaran pada Kenthus yang sombong itu.
"Sedikit lagi Kenthus. Teruskan!" Begitulah yang
diteriakkan oleh kawan-kawan Kenthus. Setelah perut Kenthus menggembung dengan
sangat besar, tiba-tiba Kenthus jatuh lemas. Perutnya sangat sakit dan
perlahan-lahan dikempiskannya. Melihat keadaan adiknya yang lemas, kakak
Kenthus lalu membantu.
Mujurlah Kenthus tidak apa-apa. Dia sembuh seperti sedia kala
tetapi sikapnya telah banyak berubah. Dia malu dan kesal dengan sikapnya yang
sombong.
PERI DAN HUTAN BERKABUT
Di sebuah desa hiduplah seorang anak
perempuan yang lugu. Sheila namanya. Ia senang sekali bermain di tepi hutan.
Ibunya selalu mengingatkannya agar tak terlalu jauh masuk ke hutan. Penduduk
desa itu percaya, orang yang terlalu jauh masuk ke hutan, tak akan pernah
kembali. Bagian dalam hutan itu diselubungi kabut tebal. Tak seorang pun dapat
menemukan jalan pulang jika sudah tersesat.
Sheila selalu mengingat pesan ibunya.
Namun ia juga penasaran ingin mengetahui daerah berkabut itu. Setiap kali pergi
bermain, ibu Sheila selalu membekalinya dengan sekantong kue, permen, coklat,
dan sebotol jus buah. Sheila sering datang ke tempat perbatasan kabut di hutan.
Ia duduk di bawah pohon dan menikmati bekalnya di sana. Sheila ingin sekali
melangkahkan kakinya ke dalam daerah berkabut itu. Namun ia takut.
Suatu kali, seperti biasa Sheila datang
ke daerah perbatasan kabut. Seperti biasa ia duduk menikmati bekalnya.
Tiba-tiba Sheila merasa ada beberapa pasang mata memperhatikannya. Ia
mengarahkan pandangan ke sekeliling untuk mencari tahu. Namun Sheila tak
menemukan siapa-siapa. “Hei! Siapa pun itu, keluarlah! Jika kalian mau, kalian
dapat makan kue bersamaku,” teriak Sheila penasaran.
Mendengar tawaran Sheila, beberapa
makhluk memberanikan diri muncul di depan Sheila. Tampak tiga peri di hadapan
Sheila. Tubuh mereka hanya separuh tinggi badan Sheila. Di punggungnya ada
sayap. Telinga mereka berujung lancip. Dengan takut-takut mereka menghampiri
Sheila. Anak kecil pemberani itu tanpa ragu-ragu menyodorkan bekalnya untuk
dimakan bersama-sama. Peri-peri itu bernama Pio, Plea, dan Plop. Ketiga peri
itu kakak beradik.
Sejak saat itu Sheila dan ketiga kawan
barunya sering makan bekal bersama-sama. Kadang mereka saling bertukar bekal.
Suatu hari Sheila bertanya kepada ketiga temannya, “Pio, Plea, Plop. Mengapa
ada daerah berkabut di hutan ini? Apa isinya? Dan mengapa tak ada yang pernah
kembali? Kalian tinggal di hutan sebelah mana?” tanya Sheila penuh ingin tahu.
Mendengar pertanyaan Sheila ketiga peri itu saling bertukar pandang. Mereka
tahu jawabannya namun ragu untuk memberi tahu Sheila. Setelah berpikir sejenak,
akhirnya mereka memberitahu rahasia hutan berkabut yang hanya diketahui para
peri.
“Para peri tinggal di balik hutan
berkabut. Termasuk kami. Kabut itu adalah pelindung agar tak seorang pun dapat
masuk ke wilayah kami tanpa izin. Kami tiga bersaudara adalah peri penjaga
daerah berkabut. Jika kabut menipis, kami akan meniupkannya lagi banyak-banyak.
Jika ada tamu yang tak diundang masuk ke wilayah kami, kami segera membuatnya
tersesat,” jelas Pio, Plea, Plop.
Sheila terkagum-kagum mendengarnya.
“Bisakah aku datang ke negeri kalian suatu waktu?” tanya Sheila berharap.
Ketiga peri itu berembuk sejenak. “Baiklah. Kami akan mengusahakannya,” kata
mereka. Tak lama kemudian Sheila diajak Pio, Plea dan Plop ke negeri mereka.
Hari itu Sheila membawa kue, coklat, dan permen banyak-banyak. Sebelumnya, Sheila
didandani seperti peri oleh ketiga temannya. Itu supaya mereka bisa mengelabui
para peri lain. Sebenarnya manusia dilarang masuk ke wilayah peri. Ketiga teman
Sheila ini juga memberi kacamata khusus pada Sheila. Dengan kacamata itu Sheila
dapat melihat dengan jelas.
Daerah berkabut penuh dengan berbagai
tumbuhan penyesat. Berbagai jalan yang berbeda nampak sama. Jika tidak
hati-hati maka akan tersesat dan berputar-putar di tempat yang sama. Dengan
bimbingan Pio, Plea, dan Plop akhirnya mereka semua sampai ke negeri peri. Di
sana rumah tampak mungil. Bentuknya pun aneh-aneh. Ada rumah berbentuk jamur,
berbentuk sepatu, bahkan ada yang berbentuk teko. Pakaian mereka seperti kostum
untuk karnaval. Kegiatan para peri pun bermacam-macam. Ada yang mengumpulkan
madu, bernyanyi, membuat baju dari kelopak bunga… Semua tampak riang gembira.
Sheila sangat senang. Ia diperkenalkan
kepada anak peri lainnya. Mereka sangat terkejut mengetahui Sheila adalah
manusia. Namun mereka senang dapat bertemu dan berjanji tak akan memberi tahu
ratu peri. Rupanya mereka pun ingin tahu tentang manusia. Mereka bermain
gembira. Sheila dan para anak peri berkejar-kejaran, bernyanyi, bercerita dan
tertawa keras-keras. Mereka juga saling bertukar makanan. Pokoknya hari itu
menyenangkan sekali.
Tiba-tiba ratu peri datang. “Siapa itu?”
tanyanya penuh selidik. “Ratu, dia adalah teman hamba dari hutan utara,” jawab
Plop takut. Ia terpaksa berbohong agar Sheila tak ketahuan. Ratu peri
memperhatikan Sheila dari ujung rambut sampai ujung kaki. Setelah itu ia pergi.
Sheila bermain lagi dengan lincah. Namun sayang ia terpeleset. Sheila jatuh
terjerembab. Ketika itu cuping telinga palsunya copot. Ratu peri melihat hal
itu. Ia amat marah.
“Manusia! Bagaimana ia bisa sampai kemari? Siapa yang membawanya?” teriaknya mengelegar. Pio, Plea, dan Plop maju ke depan dengan gemetar. “Kami, Ratu,” jawab mereka gugup. “Ini pelanggaran. Jika ada manusia yang tahu tempat ini, maka tempat ini tidak aman lagi. Kalian harus dihukum berat,” teriak ratu peri marah. Sheila yang saat itu juga ketakutan memberikan diri maju ke depan. “Mereka tidak bersalah, Ratu. Akulah yang memaksa mereka untuk membawaku kemari.” “Kalau begitu, kau harus dihukum menggantikan mereka!” gelegar ratu peri.
“Manusia! Bagaimana ia bisa sampai kemari? Siapa yang membawanya?” teriaknya mengelegar. Pio, Plea, dan Plop maju ke depan dengan gemetar. “Kami, Ratu,” jawab mereka gugup. “Ini pelanggaran. Jika ada manusia yang tahu tempat ini, maka tempat ini tidak aman lagi. Kalian harus dihukum berat,” teriak ratu peri marah. Sheila yang saat itu juga ketakutan memberikan diri maju ke depan. “Mereka tidak bersalah, Ratu. Akulah yang memaksa mereka untuk membawaku kemari.” “Kalau begitu, kau harus dihukum menggantikan mereka!” gelegar ratu peri.
Sheila dimasukkan ke dalam bak air
tertutup. Ia akan direbus setengah jam. Namun ketika api sudah dinyalakan ia
tidak merasa panas sedikit pun. “Keluarlah! Kau lulus ujian, ” kata ratu peri.
Ternyata kebaikan hati Sheila membuat ia lolos dari hukuman. Ia diperbolehkan
pulang dan teman perinya bebas hukuman. Ratu peri membuat Sheila mengantuk dan
tertidur. Ia menghapus ingatan Sheila tentang negeri peri. Namun ia masih
menyisakannya sedikit agar Sheila dapat mengingatnya di dalam mimpi. Ketika
terbangun, Sheila berada di kasur kesayangannya.
CINDERELA
Di sebuah rumah, hiduplah seorang anak yang sangat cantik dan baik
hati. Dia diberi nama Cinderela oleh kedua kakak tirinya. Kakak tiri Cindera
itu sangat tidak suka dengan Cinderela. Tiap hari Cinderela selalu mendapatkan
perlakuan yang kasar dari kedua kakak dan ibu trinya. Dia selalu disuruh
mengerjakan semua pekerjaan rumah dan selalu dibentak-bentak.
Hingga pada suatu hari, datanglah pegawai kerajaan ke rumah
mereka. Pegawai kerajaan teresebut ternyata membawa undangan pesta dari sang
raja. Kedua kakak dan ibu tiri Cinderala bersorak kegirangan. “Horeeee….. besok
kita akan pergi ke Istana. Aku akan berdandan secantik mungkin, agar pangeran
suka denganku”, teriak kedua kakak Cinderela. Mendengar teriakan kakak-kakaknya
tersebut, lalu Cinderela meminta ijin pada ibu tirinya untuk ikut dalam pesta
tersebut. Cinderela sangat sedih, karena ibu tiri dan kakak-kakak tirinya tidak
mengijinkan dia ikut dalam acara itu. “Kamu mau pakai baju apa Cinderela? Apa
kamu mau ke pesta dengan baju kumalmu itu?”, teriak kakaknya.
Akhirnya waktu pelaksanaan pesta sudah tiba, semuanya sudah
berdandan dengan cantik dan sudah siap berangkat. Cinderela hanya bias
memandangi kakak dan ibu tirinya. Dia sangat sedih sekali,karena tidak dapat
ikut dalam pesta itu. Dia hanya bisa menangis di dalam kamar dan membayangkan
meriahnya pesta tersebut. “Andaikan aku bisa ikut dalam pesta itu, pasti aku
akan senang sekali”, gumam Cindera. Tidak berapa lama setelah Cinderela
berkata, tiba-tiba ada suara dari belakangnya. “Janganlah engkau menangis
Cinderela”. Mendengar suara itu, lalu Cinderela berbalik. Ternyata dia melihat
ada seorang peri yang sedang tersenyum padanya. “Kamu pasti bisa dating ke
pesta itu Cinderela”, kata peri itu. “Bagaimana caranya? Aku tidak punya baju
pesta dan saudara-saudaraku juga sudah berangkat.”, tanya Cinderela pada peri
itu.
“Tenanglah Cinderela, bawalah empat ekor tikus dan dua ekor kadal
kepadaku", kata peri itu. Setelah semuanya dikumpulkan Cinderela, peri
membawa tikus dan kadal tersebut ke kebun labu di halaman belakang. "Sim
salabim!" sambil menebar sihirnya, terjadilah suatu keajaiban. Tikus-tikus
berubah menjadi empat ekor kuda, serta kadal-kadal berubah menjadi dua orang
sais. Cinderela pun disulap menjadi Putri yang sangat cantik, dengan memakai
gaun yang sangat indah dan sepatu kaca.
"Cinderela, pengaruh sihir ini akan lenyap setelah lonceng
pukul dua belas malam, jadi lamu harus pulang sebelum pukul dua belas”,kata
peri itu. "Ya ibu peri. Terimakasih", jawab Cinderela. Setelah
semuanya sudah siap, kereta kuda emas segera berangkat membawa Cinderela menuju
istana. Setelah tiba di istana, ia langsung masuk ke aula istana. Begitu masuk,
pandangan semua yang hadir tertuju pada Cinderela. Mereka sangat kagum dengan
kecantikan Cinderela. "Cantik sekali putri itu! Putri dari negara mana ya
?" Tanya mereka.
Akhirnya sang Pangeran datang menghampiri Cinderela. "Putri
yang cantik, maukah Anda menari dengan saya ?" katanya. "Ya…,"
kata Cinderela sambil mengulurkan tangannya sambil tersenyum. Mereka menari
berdua dalam irama yang pelan. Ibu dan kedua kakak Cinderela yang berada di
situ tidak menyangka kalau putrid yang cantik itu adalah Cinderela. Pangeran
terus berdansa dengan Cinderela. "Orang seperti andalah yang saya idamkan
selama ini," kata sang Pangeran.
Karena terlalu senag dan menikmati pesta itu, Cinderela lupa akan
waktu. Jam mulai berdentang 12 kali. "Maaf Pangeran saya harus segera
pulang..,". Cinderela menarik tangannya dari genggaman pangeran dan segera
berlari ke luar Istana. Di tengah jalan, Cinderela terjatuh dan sepatunya
terlepas sebelah, tapi Cinderela tidak memperdulikannya, ia terus berlari.
Pangeran mengejar Cinderela, tetapi ia kehilangan jejak Cinderela. Di tengah
anak tangga, ada sebuah sepatu kaca kepunyaan Cinderela. Pangeran mengambil
sepatu itu. "Aku akan mencarimu," katanya bertekad dalam hati.
Meskipun Cinderela kembali menjadi gadis yang penuh berpakaian tidak bagus
lagi, ia amat bahagia karena bisa pergi pesta.
Esok harinya, para pengawal yang dikirim Pangeran datang ke
rumah-rumah yang ada anak gadisnya di seluruh pelosok negeri untuk mencocokkan
sepatu kaca dengan kaki mereka, tetapi tidak ada yang cocok. Sampai akhirnya
para pengawal tiba di rumah Cinderela. "Kami mencari gadis yang kakinya
cocok dengan sepatu kaca ini," kata para pengawal. Kedua kakak Cinderela
mencoba sepatu tersebut, tapi kaki mereka terlalu besar. Mereka tetap memaksa
kakinya dimasukkan ke sepatu kaca sampai lecet. Pada saat itu, pengawal melihat
Cinderela. "Hai kamu, cobalah sepatu ini," katanya. Ibu tiri
Cinderela menjadi marah," tidak akan cocok dengan anak ini!".
Kemudian Cinderela menjulurkan kakinya. Ternyata sepatu tersebut sangat cocok.
"Ah! Andalah Putri itu," seru pengawal gembira. "Iya akulah
wanita yang dicari pangeran”,kata Cinderela. “Selamat Cinderela!” Mendengar
kata itu, Cinderela lalu menoleh kebelakang, dan dilihatnya ibu peri sudah
berada di belakangnya. "Mulai sekarang hiduplah berbahagia dengan Pangeran
di istana. Sim salabim!.," katanya peri tersebut.
Begitu peri membaca mantranya, Cinderela berubah menjadi seorang
Putri yang memakai gaun yang sangat bagus. "Pengaruh sihir ini tidak akan
hilang sampai kapanpun Cinderela”, kata sang peri. Cinderela kemudian dibawa
oleh pengawal istana untuk bertemu dengan sang pangeran. Sesampainya di Istana,
Pangeran sangat senang sekali,dan menyambut kedatangan Cinderela. Akhirnya
Cinderela menikah dengan Pangeran dan hidup berbahagia di dalam Istana.
ALADIN DAN LAMPU AJAIB
Aladin adalah seorang laki-laki yang berasal dari Negara Persia.
Dia tinggal berdua dengan ibunya. Mereka hidup dalam kesederhanaan. Hingga pada
suatu hari ada seorang laki-laki yang datang kerumah Aladin. Laki-laki itu
berkata kalau dia adalah saudara laki-laki almarhum bapaknya yang sudah lama
merantau ke Negara tetangga. Aladin dan ibunya sangat senang sekali, karena
ternyata mereka masih memiliki saudara.
“Malang sekali nasibmu saudaraku”, kata laki-laki itu kepada
aladin dan ibunya. “Yang penting kita masih bisa makan,paman”, jawab Aladin.
Karena merasa prihatin dengan keadaan saudaranya tersebut, maka laki-laki itu
bermaksud untuk mengajak Aladin ke luar kota. Dengan seijin ibunya,lalu Aladin
mengikuti pamannya pergi ke luar kota.
Perjalanan yang mereka tempuh sangat jauh sekali, dan pamannya
tidak mengijinkan Aladin untuk beristirahat. Saat Aladin meminta pamannya untuk
berhenti sejenak, pamannya langsung memarahinya. Hingga akhirnya mereka sampai
di suatu tempat di tengah hutan. Aladin lalu diperintahkan pamannya untuk
mencari kayu bakar. “Nanti ya paman, Aladin mau istirahat dulu”, kata Aladin.
Pamannya sangat marah setelah mendengar jawaban Aladin tersebut. “Berangkatlah
sekarang, atau kusihir engkau menjadi katak”, teriak pamannya. Melihat pamannya
sangat marah,lalu Aladin bergegas berangkat mencari kayu.
Setelah mendapatkan kayu, pamannya lalu membuat api dan
mengucapkan mantera. Aladin sangat terkejut sekali, karena setelah pamannya
membacakan mantera, tiba-tiba tanah menjadi retak dan membentuk lubang. Aladin
mulai bertanya pada dirinya sendiri, “Apakah dia benar pamanku? Atau dia hanya
seorang penyihir yang ingin memanfaatkan aku saja?”
“Aladin, turunlah kamu kelubang itu. Ambilkan aku lampu antic di
dasar gua itu”, suruh pamannya. “AKu takut paman”, kata Aladin. Pamannya lalu
memberikan cincin kepada Aladin. “Pakailah ini, cincin ini akan melindungimu”,
kata pamannya. Kemudian Aladin mulai turun kebawah.
Setelah sampai di bawah, Aladin sangat takjub dengan apa yang dia
lihat. Di dasar gua tersebut Aladin menemukan pohon yang berbuahkan permata dan
banyak sekali perhiasan. “Cepat kau bawa lampu antiknya padaku, Aladin. Jangan
perdulikan yang lain”, teriak pamannya dari atas. Aladin lalu mengambil lampu
antik itu, dan mulaimemanjat ke atas. Tetapi setelah hamper sampai di atas,
Aladin melihat pintu gua sudah tertutup dan hanya terbuka sedikit.
Aladin mulai berpikir kalau pamannya akan menjebaknya. “Cepat Aladin,
lemparkan saja lampunya”, teriak pamannya. “Tidak, aku tidak akan
memberikanlampu ini, sebelum aku sampai di atas”,jawab Aladin.
Setelah berdebat, paman Aladin menjadi tidak sabar dan akhirnya
"Brak!" pintu lubang ditutup, dan pamannya meninggalkan Aladin
terkurung di dalam lubang bawah tanah. Aladin menjadi sedih, dan duduk
termenung. Kini dia tau kalau sebenarnya laki-laki tersebut bukanlah pamannya,
dan dia hanya diperalat oleh laki-laki itu. Aladin lalubmencari segala cara
supaya dapat keluar dari gua, tetapi usahanya selalu sia-sia. "Aku sangat
lapar, dan ingin bertemu ibuku, ya Tuhan, tolonglah hambamu ini !", ucap
Aladin.
Sambil berdoa, Aladin mengusap-usap lampu antik
dan berpikir kenapa laki-laki penyihir itu ingin sekali memiliki lampu itu.
Setelah digosok-gosok, tiba-tiba di sekelilingnya menjadi merah dan asap
membumbung. Bersamaan dengan itu muncul seorang raksasa. Aladin sangat
ketakutan. "Maafkan saya, karena telah mengagetkan Tuan", saya adalah
Jin penunggu lampu. Apa perintah tuan padaku?”, kata raksasa "Oh, kalau
begitu bawalah aku pulang kerumah." "Baik Tuan, naiklah kepunggungku,
kita akan segera pergi dari sini", kata Jin lampu. Dalam waktu singkat,
Aladin sudah sampai di depan rumahnya. "Kalau tuan memerlukan saya,
panggillah saya dengan menggosok lampu itu".
Aladin menceritakan semua hal yang di alaminya kepada ibunya.
"Mengapa penyihir itu menginginkan lampu kotor ini ya ?", kata Ibu
Aladin. “Ini adalah lampu ajaib Bu!”, jawab Aladin. Karena ibunya tidak
percaya, maka Aladin lalu menggosok lampu itu. Dan setelah Jin lampu keluar,
Aladin meminta untuk disiapkan makanan yang enak-enak. Taklama kemudian ibunya
terkejur,karena hidangan yang sangat lezat sudah tersedia di depan mata.
Demikian hari, bulan, tahunpun berganti, Aladin hidup bahagia
dengan ibunya. Aladin sekarang sudah menjadi seorang pemuda. Suatu hari lewat
seorang Putri Raja di depan rumahnya. Ia sangat terpesona dan merasa jatuh
cinta kepada Putri Cantik itu. Aladin lalu menceritakan keinginannya kepada
ibunya untuk memperistri putri raja. "Tenang Aladin, Ibu akan
mengusahakannya". Ibu pergi ke istana raja dengan membawa permata-permata
kepunyaan Aladin. "Baginda, ini adalah hadiah untuk Baginda dari anak
laki-lakiku." Raja amat senang. "Wah..., anakmu pasti seorang
pangeran yang tampan, besok aku akan datang ke Istana kalian dengan membawa
serta putriku". Setelah tiba di rumah Ibu segera menggosok lampu dan
meminta Jin lampu untuk membawakan sebuah istana. Aladin dan ibunya menunggu di
atas bukit. Tak lama kemudian jin lampu datang dengan Istana megah di
punggungnya. "Tuan, ini Istananya". Esok hari sang Raja dan putrinya
datang berkunjung ke Istana Aladin yang sangat megah. "Maukah engkau
menjadikan anakku sebagai istrimu ?", Tanya sang Raja. Aladin sangat
gembira mendengarnya. Lalu mereka berdua melaksanakan pesta pernikahan.
Tidak disangka, ternyata si penyihir ternyata melihat semua
kejadian itu melalui bola kristalnya. Ia lalu pergi ke tempat Aladin dan
pura-pura menjadi seorang penjual lampu di depan Istana Aladin. Ia
berteriak-teriak, "tukarkan lampu lama anda dengan lampu baru !".
Sang permaisuri yang melihat lampu ajaib Aladin yang usang segera keluar dan
menukarkannya dengan lampu baru. Segera si penyihir menggosok lampu itu dan
memerintahkan jin lampu memboyong istana beserta isinya dan istri Aladin ke
rumahnya.
Ketika Aladin pulang dari berkeliling, ia sangat terkejut karena
istananya hilang. Aladin lalu teringat dengan cincin pemberian laki-laki
penyihir. Digosoknya cincin tersebut, dan keluarlah Jin cincin. Aladin bertanya
kepada Jin cincin tentang apa yang sudah terjadi dengan istananya. Jin Cincin
kemudian menceritakan semuanya kepada Aladin. "Kalau begitu tolong bawakan
istana dan istriku kembali lagi kepadaku”, seru Aladin. "Maaf Tuan,
kekuatan saya tidaklah sebesar Jin lampu," kata Jin cincin. "Kalau
begitu, Tolong Antarkan aku ke tempat penyihir itu. Aku akan ambil
sendiri", seru Aladin. Sesampainya di Istana, Aladin menyelinap masuk
mencari kamar tempat sang Putri dikurung. Putri lalu bilang kalau penyihir itu
sedang tidur karena kebanyakan minum Bir. Setelah mengetahui kalau penyihir itu
tidur, maka Aladin menyelinap ke dalam kamar laki-laki penyihir tersebut.
Setelah berhasil masuk dalam kamar, Aladin lalu mengambil lampu
ajaibnya yang penyihir dan segera menggosoknya. "Singkirkan penjahat
ini", seru Aladin kepada Jin lampu. Penyihir terbangun, lalu menyerang
Aladin. Tetapi Jin lampu langsung membanting penyihir itu dan melemparkan ke
luar istana. "Terima kasih Jin lampu, bawalah kami dan Istana ini kembali
ke tempatnya semula". Sesampainya di Persia Aladin hidup bahagia. Ia
mempergunakan sihir dari peri lampu untuk membantu orang-orang miskin dan
kesusahan.
PUTERI TIDUR
Dahulu kala, ada sepasang Raja dan Ratu yang berbahagia, karena
setelah bertahun-tahun lamanya, akhirnya Ratu melahirkan seorang Puteri.
Raja dan Ratu mengundang tujuh peri untuk datang dan memberkati
Puteri yang baru saja lahir itu.
Dalam acara megah yang diselenggarakan sebagai penghormatan kepada
para peri itu, masing-masing peri memberikan berkat kepada sang Puteri.
Peri pertama mengatakan “Kamu akan menjadi Puteri tercantik di
dunia.”Peri kedua mengatakan “Kamu akan menjadi seorang Puteri yang
periang.”Peri ketiga mengatakan “Kamu akan selalu mendapatkan banyak kasih
sayang.”Peri keempat mengatakan “Kamu akan dapat menari dengan sangat
anggun.”Peri kelima mengatakan “Kamu akan dapat bernyanyi dengan sangat merdu.”
Peri keenam mengatakan “Kamu akan sangat pintar memainkan alat
musik.”
Tiba2 datang peri tua ke tengah acara itu. Ia sangat marah karena
tidak diundang. Semua orang memang sudah lama tidak pernah melihat peri tua
itu, dan mengira bahwa ia sudah meninggal atau pergi dari kerajaan itu.
Peri tua yang marah itu mendekati sang Puteri dan mengutuknya
“Jarimu akan tertusuk jarum pintal dan kamu akan mati!” dan kemudian peri tua
itu pun menghilang.
Semua orang sangat terkejut. Ratu pun mulai menangis.
Peri ketujuh mendekati sang Puteri dan memberikan berkatnya “Aku
tidak bisa membatalkan kutukan, tapi aku dapat memberikan berkatku supaya
Puteri tidak akan mati karena terkena jarum pintal, melainkan hanya tertidur
pulas selama seratus tahun. Setelah seratus tahun, seorang Pangeran tampan akan
datang untuk membangunkannya.”
Raja dan Ratu merasa sedikit lega mendengarnya. Mereka lalu
mengeluarkan peraturan baru bahwa di kerajaan itu tidak boleh ada alat pintal
satu pun. Mereka menyita dan menghancurkan semua alat pintal yang ada di
kerajaan itu demi selamatan sang Puteri. Pada suatu hari disaat Puteri
berusia 18 tahun, Raja dan Ratu pergi sepanjang hari.
Karena kesepian, sang Puteri berjalan-jalan menjelajahi istana dan
sampai di sebuah loteng. Disana ia menjumpai seorang wanita tua yang sedang
memintal benang menggunakan alat pintal. Karena belum pernah melihat
alat pintal, sang Puteri sangat tertarik dan ingin mencoba.
Wanita tua itu sebenarnya adalah peri tua jahat yang dulu
mengutuknya. Saat sang Puteri mencoba alat pintal itu, ia pun dengan sengaja
menusukkan jarum pintal ke tangan sang Puteri.
Sang Puteri jatuh tak sadarkan diri dan tertidur karena terkena
kutukan. Peri tua jahat tertawa puas dan menghilang dalam kegelapan.
Saat Raja dan Ratu kembali, mereka dan seluruh pegawai kerajaan
kebingungan mencari sang Puteri. Saat mereka menemukannya, Raja tersadar bahwa
kutukan peri tua jahat telah menjadi kenyataan. Sang Puteri lalu dibawa ke
kamarnya dan dibaringkan di tempat tidurnya. Raja lalu mengirimkan kabar mengenai
peristiwa itu ke peri ketujuh yang baik hati.
Peri ketujuh yang baik hati lalu bergegas ke istana. Ia memutuskan
untuk menidurkan semua orang di kerajaan itu supaya kelak saat kutukan sang
Puteri berakhir mereka semua akan bangun bersama-sama.
Dalam waktu singkat pohon-pohon besar dan semak belukar yang lebat
dan berduri tumbuh di seluruh wilayah kerajaan, sehingga sangat sulit bagi
siapapun untuk menerobosnya. Bahkan puncak-puncak istana pun hanya dapat
terlihat ujungnya saja. Karena menjadi sangat tertutup, sang Puteri dan seluruh
kerajaan menjadi aman, walaupun mereka semua tertidur.
Setelah masa seratus tahun berakhir, seorang Pangeran tampan yang
kebetulan sedang berburu di dekat wilayah kerajaan itu melihat pucuk-pucuk
istana itu. Ia sudah banyak mendengar cerita tentang kerajaan itu, antara lain
tentang istana yang dianggap berhantu, para penyihir, dan cerita-cerita lain
yang sangat menyeramkan yang sebenarnya tidak benar.
Karena penasaran, saat kembali dari berburu sang Pangeran mencari
orang tua yang paling bijaksana dan pintar di kerajaan untuk menanyakan tentang
kerajaan tetangga yang penuh misteri itu.
Orang tua yang bijaksana itu lalu bercerita bahwa menurut
leluhurnya, di dalam istana di kerajaan yang misterius itu terbaring seorang
Puteri yang paling cantik di dunia, yang tertidur karena terkena kutukan dari
peri tua jahat. Sang Puteri akan terus tidur hingga ada seorang Pangeran yang
datang untuk membangunkannya.
Pangeran tampan yang pemberani itu lalu bergegas berangkat menuju
kerajaan misterius itu. Ia berniat untuk menyelamatkan sang Puteri. Sang
Pangeran berjuang menembus semak belukar dan pepohonan untuk dapat mencapai
kedalam wilayah kerajaan yang misterius itu.
Sesampainya disana, ia melihat banyak sekali orang dan hewan
peliharaan yang terbaring dimana-mana. Tetapi mereka tidak mati, sepertinya
mereka hanya tertidur sangat nyenyak. Pangeran lalu masuk ke dalam
istana. Disana ia pun melihat seluruh pegawai kerajaan yang tertidur
pulas.
Setelah berjalan-jalan menjelajahi istana itu,
sang Pangeran berhasil menemukan sang Puteri di sebuah kamar. Sang Pangeran
terpesona oleh kecantikan sang Puteri. Pangeran pun berlutut dan memegang
tangan sang Puteri. Saat itulah kutukan berakhir dan sang Puteri membuka matanya.
Ia menyambut sang Pangeran yang telah lama ia tunggu dengan bahagia.
Dalam waktu yang bersamaan seluruh penghuni istana dan seluruh
kerajaan terbangun. Semak belukar dan pepohonan menghilang. Semua orang kembali
mengerjakan urusan mereka masing-masing. Raja dan Ratu juga terbangun dan
segera menyambut sang Pangeran dari kerajaan tetangga itu.
Tak lama kemudian, sang Puteri dan sang Pangeran tampan menikah.
Mereka lalu hidup berbahagia selamanya.
RAJA TELINGA KELEDAI
Raja Zanas memerintah dengan sewenang-wenang. Kegemarannya
menumpuk harta sebanyak mungkin yang diperolehnya dari pajak rakyatnya. Raja
Zanas selain tamak juga seorang raja yang sangat kikir. Rakyat yang hidup
sengsara tidak sekalipun pernah dipikirkannya. Anehnya raja yang zalim itu
mempunyai kegemaran mendengarkan musik.
Padahal kata orang-orang bijak musik dapat memperhalus perasaan.
Oleh karena itu yang menyukainya akan mempunyai perasaan yang lembut tetapi
cerdas. Salah satu kegemaran Raja Zanas adalah mendengarkan tiupan suling.
Kebetulan di negerinya ada seorang peniup seruling yang sangat pandai bernama
Tarajan.
Raja Zanas sangat memanjakan Tarajan dan kerap mengirim peniup
seruling itu ke seluruh penjuru negeri bahkan ke luar kerajaannya untuk berlomba.
Tarajan selalu jadi juara pertama dan memperoleh hadiah-hadiah yang
menggiurkan. Sayang karena hal itu Tarajan jadi sombong dan congkak. Karena
sombongnya Tarajan mengaku dapat mengalahkan Dewa Apolo. Seorang Dewa bangsa
Yunani yang sangat menguasai seni musik.
Tarajan mengusulkan pada Raja Zanas agar ia dipertandingkan dengan
Apolo. Usul itu diterima dengan baik bahkan raja merasa bangga jika Tarajan
dapat mengalahkan pemain musik dari kerajaan langit itu. Dewa Apolo yang
mendengar tantangan itu menyanggupi. Justru Dewa itu ingin memberi pelajaran
pada Tarajan dan Raja Zanas yang berkelakuan tidak lazim.
“Seandainya aku kalah biarlah aku mengabdi pada Raja Zanas seumur
hidupku. Tetapi andaikan aku yang menang aku minta separuh kerajaanmu dan
kuserahkan pada rakyatmu” kata Dewa Apolo. Raja Zanas dan Tarajan setuju.
Mereka begitu yakin dapat mengalahkan Apolo yang tampak masih sangat muda itu.
Pada hari yang telah ditentukan pertandingan dimulai. Seluruh
rakyat tumpah ruah ke halaman Istana. Sedangkan Dewa Zeus sebagai penguasa
seluruh khayangan ikut menyaksikan tanpa seorang pun yang tahu. Sebagai
penantang Tarajan dipersilakan meniup seruling terlebih dahulu. Dengan pongah
Tarajan naik ke atas podium lalu segera meniup serulingnya. Seruling emas
berbalut intan permata milik Tarajan segera mengumandangkan lagu-lagi yang
sangat merdu. Naik turun seperti ombak. Lembut seperti angin pesisir. Bergolak
seperti ombak menerjang karang.
Semua yang mendengarkan bagaikan tersihir. Begitu hebatnya tiupan
seruling Tarajan. Raja Zanas tertawa terbahak-bahak dan yakin sekali peniup
serulingnya akan keluar jadi pemenang. Tetapi Dewa Apolo tenang. Diam bagaikan
patung, tetapi bibirnya tersenyum. Pertanda kagum juga pada permainan seruling
Tarajan. Dan ketika usai sorak ssorai seperti membelah angkasa. Tarajan berdiri
berkacak pinggang dengan wajah sangat pongah.
Ketika giliran Dewa Apolo, Dewa kesenian itu mengangkat
serulingnya dengan cantik sekali. Lembut bagaikan menimang bayi suci. Dan
ketika bibirnya mulai meniupkan sebuah lagu, langit berpendar-pendar antara
siang dan malam. Rakyat yang menonton terhanyut dalam irama yang luar biasa
indah. Dengan mata terpejam semua menari dengan lembut sekali. Mereka pun
menyanyi sebuah lagu kedamaian yang sekonyong saja mampu dinyanyikan. Rakyat
yang jumlahnya tidak terhitung itu larut dalam lagu-lagu dan irama yang
sebelumnya tidak pernah mereka dengarkan tetapi sangat merdu mendayu-dayu.
Akhirnya Dewa Zeus yang menampakkan diri menyatakan Apolo sebagai
pemenangnya. Dan meminta Raja Zanas seger memberikan separuh kerajaannya pada
rakyatnya. Tetapi raja kikir itu menolakk hingga membuat Dewa Zeus marah.
“Selama kau tidak memberikan pada rakyat apa yang telah kau janjikan, maka
telingamu akan membesar setiap hari.” Kata Dewa Zeus.
Memang benar. Telinga Raja Zanas tiap hari semakin besar hingga
sangat berat dan membuatnya tidak bisa berdiri apalagi berjalan. Jadilah ia
raja bertelinga keledai. Akhirnya Raja Zanas menyerahkan separuh kerajaannya
pada rakyatnya. Dan berjanji tidak lagi kikir dan tamak. Dewa Zeuslah saksi
dari ucapannya.
BUKIT MERAH
Dulu, Singapura pernah direpotkan oleh ikan todak. Ikan bermoncong
panjang dan tajam itu suka menyerang penduduk. Tak terhitung berapa banyak
penduduk yang luka-luka dan mati akibat serangan ikan ganas itu.
Raja kemudian memerintahkan penglima perangnya untuk menaklukkan
ikan-ikan jahat itu. Maka, dipersiapkanlah sepasukan prajurit untuk membunuh
ikan itu. Akan tetapi, hampir semua prajurit itu mati di moncong Todak. Raja
bingung bagaimana menundukkan ikan itu.
Di tengah kebingungannya, Raja didatangi seorang anak kecil.
“Mohon ampun, Paduka yang Mulia, bolehkah hamba mengatakan sesuatu
tentang ikan-ikan itu?”
“Katakanlah!”
“Ikan-ikan itu hanya bisa ditaklukkan dengan pagar pohon pisang.”
“Apa maksudmu?”
Yang dimaksud anak kecil itu adalah pagar yang terbuat dari batang
pohon pisang. Pohon-pohon itu ditebang, dijajarkan, kemudian direkatkan dengan
cara ditusuk dengan bambo antara yang satu dan lainnya hingga menyerupai pagar.
Pagar itu kemudian ditaruh di pinggir pantai, tempat ikan-ikan itu biasa
menyerang penduduk.
Raja kemudian memerintahkan Panglima untuk membuat apa yang
dilkatakan anak kecil itu. Diam-diam Panglima mengakui kepintaran si anak.
Diam-diam pula dia membenci anak kecil itu. Gagasan si anak membuat Panglima
merasa bodoh di hadapan Raja.
“Seharusnya akulah yang mempunyai gagasan itu. Bukankah aku
panglima perang tertinggi? Masak aku kalah oleh anaka kecil,” katanya dalam
hati.
Keesokan harinya, selesailah pagar pohon pisang itu. Pagar itu
lalu ditaruh di tepi pantai sebagaimana yang dikatakana si anak kecil.
Ternyata benar. Ikan-ikan yang menyerang pagar pohon pisang itu
tak bisa menarik kembali moncongnya. Mereka mengelepar-gelepar sekuat tenaga,
tetapi sia-sia. Moncong mereka yang panjang dan tajam itu menancap kuat dan
dalam pada batang pohon pisang yang lunak itu. Akhirnya, dengan mudah penduduk
dapat membunuh ikan-ikan jahat itu.
Si anak pun diberi hadiah oleh Raja.
“Terima kasih. Kau sungguh-sungguh anak yang pintar,” puji Raja.
Orang-orang bersuka cita.
Akan tetapi, panglima perang yang iri dan kesal karena merasa
tampak bodoh di hadapan Raja itu menghasut Raja.
“Baginda, anak kecil yang cerdas itu tampaknya bisa menjadi
ancaman jika dia besar nanti.”
“Maksudmu?”
“Siapa tahu, setelah besar nanti, dengan kepintarannya dia
berhasrat merebut tahta Paduka.”
Raja terhasut. Ia lalu memerintahkan Sang Panglima untuk
menyingkirkan anak itu.
Sang Panglima mendatangi rumah anak kecil itu dan dengan licik
membunuh anak tak berdosa itu. Anehnya, darah si anak mengalir deras dan
membasahi seluruh tanah bukit tempat anak itu tinggal. Seluruh bukit menjadi
merah. Orang-orang lalu menyebut tempat itu Bukit Merah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar